Sabtu, September 19, 2009

*Satu lipatan sempurna*


Sedari tadi aku bingung bagaimana mesti melipat kamu
Semua hal yang berkaitan dengan kamu ingin aku letakkan dalam setiap cadar yang terhampar
Sekali, dua kali, tiga kali, aku mengulang lipatan dengan cara yang berbeda
Tapi belum juga menemukan lipatan yang yang sempurna
Senyummu tetap muncul
Matamu tetap timbul
Gerak gerik tubuhmu tetap memantul
Mendadak lidahku mandul
Tak mampu lagi melipat kamu
Tak bisa membuat jutaan lipatan tentang mata, senyum dan gerak gerik tubuhmu dalam satu lipatan yang sempurna

Dan sebenarnya
Aku ingin sekali merenggut kamu
Menculik kamu
Kemudian menyimpan kamu baik-baik dalam setiap helai lipatan benakku
Dan mencuri bau napasmu yang bau tembakau itu untuk aku abadikan dalam liang tenggorokku
Merampas semua sisa dirimu untuk aku simpan dalam toples hidupku
Agar aku bisa menyimak kamu
Agar aku bisa menikmati kamu
Agar aku bisa menyimpan kamu

Aku akan sekali lagi mencoba
Mencari pola lipatan sempurna
Untuk kembali mempesonamu dengan keahlianku membuat satu lipatan rasa



Santa,
19 September 2009
01.13 pagi

Sabtu, Agustus 29, 2009

*Usai


Kumohon, jangan jejali aku lagi dengan bulir-bulir penyesalanmu, hal itu sudah tak lagi berlaku. Tidak untuk kali ini, tidak untuk beberapa saat ke depan, karena kali ini aku akan merajah satu kata tepat di dahimu, yaitu USAI.
Jangan mendekat dalam hitungan satu meter, jangan beringsut berpikir bahwa kau masih layak berdiri sejajar dengan hatiku, jangan tuang senyum diatas getir bibirku, jangan layangkan belai ke kulit punggungku, karena semua sudah tiba, pada akhirnya tiba pada satu titik dimana aku telah menetapkan kita selesai.

“Aku ingin kita kembali, mengulang semua dari awal”, katamu
Aku tertegun dan mengucap.
”Apakah kita pernah memiliki sebuah awalan?”
Kamu kini yang tertegun. Dan aku kembali mengucap,
”Kamu datang dan pergi. Hilang dan kembali.”
Kamu menjawab,
”Ya itu aku!”
Aku menggeleng dan terpekur kemudian berkata,
“Baiklah kalau begitu. Hanya hatiku bukan layangan yang bisa kau tarik ulur sesuka hatimu”.
Kau terdiam dan membakarku dengan tatapan.
Aku menatap balik dengan porak poranda.
“Seberapa baik aku untukmu?”, tanyamu
“Tidak ada manfaatnya kamu untukku!” balasku.
Dia menghembuskan napas. Bau tembakau.
Aku merindukan bau itu.
“Tidak ada celah yang bisa kau buka?” tanyamu lagi.
Aku menatapnya lagi dan menggeleng,
”Tidak!” jawabku.

Kemudian kamu menatapku sangat dalam dan meninggalkanku dengan satu kecup di pucuk hidung. Kebiasaanmu. Rutinitasmu. Tidak mau mencium pipi, hanya pucuk hidungku.

Kau telah membelah hatiku. Kau satu-satunya orang yang membuat wajahku tirus dan kuyu. Kau pastinya tak seberapa tahu betapa perasaanku padamu sangat dalam. Tak tergali. Jauh. Tak berdasar. Tanpa nama.
Tinggallah disana, hanya sebagai bayangan.


Santa,
29 Agustus 2009
Selesai pk. 12.55 WIB

Sabtu, Agustus 22, 2009

*sekali lagi *


Menjelajahi dirinya dengan sekian hela napas yang tersisa
Tertinggal rasa yang terasah
Tanpanya, ruangan serasa kedap suara
Menghisapku hingga ke dasar kesadaran
Mendambanya
Kembali
Kembali kepadaku

Ku usahakan membuat pudar sinyal yang nyata
Ku abaikan lubuk hati yang telah memberikan jawaban
Mungkin dia, mungkin tidak, mungkin saja
Aku sibuk mengunyah curiga
Menelan bulat-bulat simpatiku agar tidak menjadi empati

Berkali aku bilang cukup dan sudah
Tapi kerap kali sanubari memanggil dan mendekap
Seluruh dia berkubang dalam angan yang terbang diatas awan
Semacam kain basah yang teronggok kusut di sudut ruangan
Dia tidak berpaling dan pergi
Dia justru mendekat dan menggenggam erat

Aku tetap sibuk merajam dan menghukum diri
Tak pantas, tak mungkin, mungkin pantas?
Caci maki sibuk hilir mudik
Rendah diri menjadi hantu gentayangan
Aku menghamburkan duka ke udara

Kali ini tanpa dia
Tanpa suara
Karena pedihnya luar biasa

Jatuh rasa, sekali lagi
Sekali lagi ...
Sekali lagi ...
Menginginkan seseorang ...
Hingga ke dasar kesadaran


22 Agustus 2009
Rumkupkup
23.00 WIB

Pasti, pasti, pasti


Menikmati setiap gumam yang terkulum dalam tenggorokan
Menahan napas hingga tersedak
Benci yang membuncah
Marah yang tersimpan rapat
Bau tak sedap, bau tak sedap, bau tak sedap


Mencarinya hingga ke hela napas terakhir
Memburunya seperti binatang yang mesti dibunuh
Air mata yang telah menguap
Sakit hati yang terlah terburai
Dia mesti mati, dia mesti mati, dia mesti mati

Menghilang tanpa jejak kearah selatan
Gemeretak tanah pecah, terbelah.
Seringai yang bertahta di bibir
Kilat dendam di sorot mata coklat tua
Kau pasti jatuh, kau pasti jatuh, kau pasti jatuh

Sebilah belati di tangan kanan
Kepalan tangan di tangan kiri
Rambut hitam legam bercinta dengan angin dahaga
Hati yang robek menyimpan sekian banyak tanya
Pasti, pasti, pasti.

Kau pasti mati ditanganku.
Sekarang, esok, 28 detik lagi, sekian tahun di depan.
Entah.
Pasti, pasti, pasti!

Kau pasti mati ditanganku.
Akan ku tunggu momen itu.




Santa,
22 Agustus 2009
22.17 WIB

Rabu, Agustus 19, 2009

*kali ini aku relakan


Begitu menggigit
Mulai terpasung
Sesak napas dimulai
Kali ini aku relakan

Lalu lalang dinihari
24 jam dalam sehari
Aku kerasukan
Kali ini aku relakan

Tidak benar bukan salah
Tidak tepat bukan maklum
Tidak hebat bukan acuh
Kali ini aku relakan

Dia tiup aku hirup
Dia terbang aku melayang
Dia senja aku dahaga
Kali ini aku relakan

Rumkupkup,
18 Agustus 2009
22.10 WIB