Sabtu, April 17, 2010

Begini jika aku berjumlah sejuta


Begini
Bagaimana jika aku ludahi kamu dengan berjuta-juta amarah

Begini
Bagaimana jika aku banjiri kamu dengan berjuta-juta butir air mata

Begini
Bagaimana jika aku merengkuh kamu dengan berjuta-juta gelak tawa

Begini
Bagaimana jika aku mencabik kamu dengan berjuta-juta dendam yang belum sirna

Begini
Bagaimana jika aku mencium kamu dengan berjuta-juta kecupan manis

Begini
Bagaimana jika aku berlari kearahmu dengan berjuta-juta tuntutan

Begini
Bagaimana jika aku tiba-tiba melesak ke hatimu dengan berjuta-juta rasa

Begini
Bagaimana jika aku menyatakan kepada jiwamu berjuta-juta harapan

Apakah kali ini kau tetap bungkam
Apakah kali ini kau tetap belum paham
Apakah kali ini kau tetap diam

Begini
Bagaimana jika aku menusuk relung hatimu dengan belati yang telah aku hunus sejak kemarin-kemarin?

Apakah kali ini akan membuat kamu menoleh dan memberi aku berjuta-juta alasan?

17 April 2010
22.28 WIB

Sabtu, Maret 20, 2010

Infeksi


Hatimu melengkung
Didesak oleh rasa yang kian cembung

Hatiku melengkung
Didera oleh cinta yang kian membusung

Hati kita melengkung
Tidak perlu rekonstruksi amarah yang berdengung

Hatiku menanti
Dendam yang kau simpan mati

Hatiku menanti
Kecewa yang bertahta perlahan terobati

Hatiku menanti
Hatimu paham bahwa hatiku tetap disini

20 Maret 2010

Selasa, Maret 02, 2010

Telah terinjak


Senantiasa ada dan menghentak
Menghunus seperti rasa berani
Tetapi senja yang timbul tenggelam
Membuatku ragu untuk berujar

Semua serba kabut tipis
Seperti labirin yang terkoyak
Debu beterbangan tak tentu arah
Salah satunya hinggap dipucuk hidungmu
Ingin rasanya kukecup dengan ujung bibirku

Merasakan kamu seperti menikmati satu gelas teh tawar hangat
Tidak perlu manis yang menyengat
Hangat saja sudah cukup membuat relung dadaku tersekat

Merenungi kamu sebelum aku rebah
Menikmati bau kulitmu yang seperti bau matahari
Menghirup bau napasmu yang seperti bau tembakau
Tak perlu aku julurkan lidahku untuk merayu
Kehadiranmu sudah membuatku gundah

Diam saja disana
Di pojokan ruang tempat biasa
Biarkan aku tetap menelan kekaguman akan semua rasa
Jangan bergerak
Aku tidak lagi ingin tersedak
Oleh rasa yang aku persilahkan masuk dan mulai terasa sesak

Jangan dihitung
Ini bukan matematika dan logika
Tetaplah diam seperti sebuah karya pahatan patung
Aku sudah mengunci rapat kedua telinga

Jangan beranjak
Aku sudah pada titik ingin berteriak
Bahwa hatiku telah terinjak

Telah terinjak!

2 Maret 2010
00.18 WIB

Sabtu, Februari 06, 2010

Rindu










Aku rindu
Nyeri seperti disayat sembilu

Aku bisu
Rasa ini menggugurkan egoku

Aku kelu
Karena begitu menginginkan kamu

Santa,
6 Februari 2010

Minggu, Januari 24, 2010

Cumbu terakhir


Hadir ditengah gelap
Sebagai lilin kecil yang menghangatkan sebuah ruang lebar
Segenap waktu berdetak
Kamu mengisi dan hanya mencipta
Sebuah rasa yang belum aku kenal
Mungkin itu maksud kita dipertemukan

Sebuah masa yang singkat namun padat
Sebuah rasa tanpa syarat
Kau berikan tanpa sekat

Kemarin kau pergi dalam genggaman kedua lenganku
Aku lihat kau menghela napasmu terakhir
Tak jemu aku mencumbu
Karena aku tahu ini telah menjadi cumbuan terakhir

Aku berulang kali peluk kamu
Aku berulang kali dekap kamu
Aku ingin merasakan rasa itu lagi dan lagi
Namun aku sadar kamu sudah tidak ada lagi

Air mata belum berhenti
Hingga detik ini
Rasa sakit kehilanganmu belum habis
Aku pikir itu pedih tak terkira yang tidak bisa ditepis

Aku ingin mengucapkan terima kasih
Dalam kurun waktu yang bisa dihitung dengan jari
Kau telah membuatku kembali belajar mencinta
Tanpa banyak umbar kata
Tanpa banyak umbar janji
Hanya memberi, lagi dan lagi

Aku akan simpan kamu
Selamanya
Dalam kotak hatiku yang telah kau titipkan sebuah lilin abadi

21 Januari 2010
Santa
10.05 pagi

Untuk: Chibby