Sabtu, Juli 10, 2010

KACA PECAH


Berusaha dengan sangat keras menghentikan dendam
Tapi marah ini terus mendengus
Diantara sekian belati yang telah siap aku hunus
Untuk setiap saat ada kesempatan untuk bertemu kamu




Berusaha memejamkan mata di 30 malam belakangan ini
Tapi apa yang telah kamu lakukan kepadaku terus hilir mudik dikepalaku
Mengoyak semua kenangan dan rasa yang sebelumnya ada
Lagi-lagi aku ingin menghunus kamu dengan semua gelagat busukku

Beri tahu aku bagaimana cara memaafkan pengkhianatanmu?
Beri tahu aku bagaimana cara meredam semua kekejamanmu?
Beri tahu aku bagaimana cara menerima fakta bahwa kamu tidak lebih baik daripada aku?
Beri tahu aku bagaimana cara menahan diri untuk tidak mencincang kamu dengan kata-kataku yang pedih?
Dan beri tahu aku sekarang!
Bagaimana caranya untuk tetap menyayangi kamu sebagai orang yang berarti dalam hidupku?

Jika kamu paham
Jika kamu di tempat dimana aku berdiri sekarang
Jika kamu berada didalam relung hatiku
Kamu pasti melihat dengan mata kepalamu sendiri
Bahwa apa yang kamu lakukan itu telah meluluh lantakkan hatiku yang seperti kaca

Hatiku adalah kaca.
Pecah,
Kepingannya kusimpan untukmu.


6 Juli 2010
Di rumah warna

Sabtu, Juni 05, 2010

Ludah


Menjilat ludah
Sudah dikerubungi lalat
Sudah bertaburan bakteri
Sudah menguap karena matahari

Terpicing mata
Menetaskan air liur
Ingin meludah lagi
Menahan sisa di tenggorok

Gelegak emosi didada
Menghitung napas satu-satu
Ketukan jantung tidak berirama
Yang ada hanya desah napas memburu

Bermain dengan analogi
Bermain dengan emosi
Bermain dengan satu juta satu ’andai’
Kali ini bermain dengan diri sendiri
Hingga tiba pada satu titik nadi

Menjilat ludah
Kali ini aku telan
Tidak ingin menebar kuman
Yang nantinya akan aku jilat lagi
Seperti biasanya

Menelan ludah
Meski pahit
Meski nyeri
Kali ini aku telan dan nikmati saja
Jika besok kiamat
Aku lega karena kali ini aku tidak kembali menjilat ludahku sendiri (lagi)


5 Juni 2010

Kamis, Juni 03, 2010

Gelas teh kesayanganku


Gelas teh kesayanganku terkoyak
Karena beberapa kali secara tidak sengaja aku senggol
Terjatuh
Kemudian terbanting


Gelas teh kesayanganku sebelumnya masih mampu bertahan
Meski retak, dan luka disana sini
Tetapi ia masih bisa berbentuk gelas, gelas kesayanganku!

Terakhir, karena sebuah kelalaian, aku menghempaskan gelas teh kesayanganku
Dan kali ini dia jatuh berderai
Aku terhenyak
Hening sekian lama
Berdiri mematung
Ini gelas teh kesayanganku, kebanggaanku, yang telah hampir 300 hari menemaniku minum teh di momen-momen hidupku
Dia tercerai berai
Tidak sanggup lagi bertahan
Meski aku segera memungut setiap pecahannya, dan bersumpah akan mencari lem super lengket untuk kembali merekatkan dia menjadi satu lagi
Menjadi gelas teh kesayanganku. Gelas kebanggaanku.

Tetapi ternyata gelas itu menyerah.
Dia menolak untuk direkatkan kembali.
Dia tidak ingin menjadi gelas teh kesayanganku lagi.
Karena aku lalai menjaganya.
Karena aku tidak menyentuhnya selayaknya benda kesayangan.

Dan dengan kedua tangan yang gemetaran
Menahan penyesalan hingga ke ujung tenggorok
Aku meletakkan semua kepingan gelas teh kesayanganku diatas pangkuanku
Menyentuhnya pelan dan merasakan pinggiran pecahan yang runcing menganga
Maafkan aku gelas. Telah membuatmu pecah berderai.
Pasti luka yang kutoreh akan membekas dalam.
Maafkan aku gelas. Aku lalai menjagamu dengan hatiku.


Nawi, 3 Juni 2010

Senin, Mei 03, 2010

Mulai enggan!


Aku merasa mulai kehabisan daya untuk memahami kamu
Ketika semua usaha telah aku kerahkan
Dan kamu hanya beringsut sedikit dari tempat kamu menaruh harga standar
Aku telah paham aku nyaris berada dititik mana




Aku mulai lelah dengan caramu memperdaya logikamu sendiri
Keenggananmu untuk belajar memahami perasaan orang lain mulai mengusik kesabaranku
Kini aku merasa diriku mulai menaruh harga mati
Aku telah paham aku nyaris berada dititik mana

Jika nanti aku telah tiba pada satu kata cukup
Aku harap kamu bisa paham
Bahwa itu berarti selesai sudah
Berarti aku sudah tiba pada ujungku

Mungkin memang disayangkan
Mungkin patut ditimbang balik
Mungkin bisa ditawar kembali
Mungkin ya, mungkin tidak

Yang pasti saat ini aku mulai enggan
Aku lelah untuk merasa lelah

Aku merasa usahaku hanya berpijak pada sisi telapak yang salah
Jika ini memang benar hanya bertepuk sebelah tangan

Aku telah paham aku nyaris berada dititik yang mana

Rolrambutkoneng
06.28 WIB
3 Mei 2010/Senin

Sabtu, April 17, 2010

Begini jika aku berjumlah sejuta


Begini
Bagaimana jika aku ludahi kamu dengan berjuta-juta amarah

Begini
Bagaimana jika aku banjiri kamu dengan berjuta-juta butir air mata

Begini
Bagaimana jika aku merengkuh kamu dengan berjuta-juta gelak tawa

Begini
Bagaimana jika aku mencabik kamu dengan berjuta-juta dendam yang belum sirna

Begini
Bagaimana jika aku mencium kamu dengan berjuta-juta kecupan manis

Begini
Bagaimana jika aku berlari kearahmu dengan berjuta-juta tuntutan

Begini
Bagaimana jika aku tiba-tiba melesak ke hatimu dengan berjuta-juta rasa

Begini
Bagaimana jika aku menyatakan kepada jiwamu berjuta-juta harapan

Apakah kali ini kau tetap bungkam
Apakah kali ini kau tetap belum paham
Apakah kali ini kau tetap diam

Begini
Bagaimana jika aku menusuk relung hatimu dengan belati yang telah aku hunus sejak kemarin-kemarin?

Apakah kali ini akan membuat kamu menoleh dan memberi aku berjuta-juta alasan?

17 April 2010
22.28 WIB