Sabtu, Agustus 22, 2009

Pasti, pasti, pasti


Menikmati setiap gumam yang terkulum dalam tenggorokan
Menahan napas hingga tersedak
Benci yang membuncah
Marah yang tersimpan rapat
Bau tak sedap, bau tak sedap, bau tak sedap


Mencarinya hingga ke hela napas terakhir
Memburunya seperti binatang yang mesti dibunuh
Air mata yang telah menguap
Sakit hati yang terlah terburai
Dia mesti mati, dia mesti mati, dia mesti mati

Menghilang tanpa jejak kearah selatan
Gemeretak tanah pecah, terbelah.
Seringai yang bertahta di bibir
Kilat dendam di sorot mata coklat tua
Kau pasti jatuh, kau pasti jatuh, kau pasti jatuh

Sebilah belati di tangan kanan
Kepalan tangan di tangan kiri
Rambut hitam legam bercinta dengan angin dahaga
Hati yang robek menyimpan sekian banyak tanya
Pasti, pasti, pasti.

Kau pasti mati ditanganku.
Sekarang, esok, 28 detik lagi, sekian tahun di depan.
Entah.
Pasti, pasti, pasti!

Kau pasti mati ditanganku.
Akan ku tunggu momen itu.




Santa,
22 Agustus 2009
22.17 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar