Selasa, April 28, 2009

Rumah Xamawala

Ingin sekali aku melacak kamu, tapi entah mengapa aku tak mampu. Rasa-rasanya semua sendi tulangku berbicara hal yang sama, hal yang membuatku selalu pura-pura untuk tiba-tiba tuli dan lupa ingatan.
Katanya kamu sudah mati dan hilang entah kemana.
Banyak orang sudah tidak tahu keberadaanmu. Aku kurang yakin.
Kemudian aku disini, masih gelisah. Masih menunggu, dengan penuh harap dan cemas, kamu akan kembali, satu saat nanti, menjemputku.
Untuk kembali pulang.
Pulang ke tempat yang kita sebut ‘rumah xamawala’.

Senja mulai turun, dan aku belum usai. Dadaku terasa kian sesak. Entah oleh apa.
(Mungkin karena pernah kamu belah)
Tampaknya aku rindu kamu.
(Suara cermin remuk terinjak)
Aku rindu kebersamaan kita. Aku menginginkan saat-saat itu kembali, ketika aku merasa masih mengenalmu.
Ketika aku masih bisa mengupas kulitmu pelan, mendengus napasmu, menggigit bibirmu dan merenggut tubuhmu.
(Desir angin mengoyak mimpiku)

Aku kini merasa kamu begitu jauh, meski di lubuk hatiku aku tahu kamu tidak kemana-mana. Aku sadar kamu masih disitu, disudut sana, mengawasiku dengan mata elangmu. Waspada.

Rintik hujan turun bersamaan dengan kelam malam. Dingin dan lembut. Senyap sekaligus menyayat.
(malam adalah idaman)
Aku bersiap-siap.
Untuk apa?
Menanti kedatanganmu.
Kepulanganmu.
(suara degup jantung berdebar-debar)

Dan aku mulai menabur bedak di wajahku.
Mulai menoreh gincu di bibirku.
Mulai mengoles warna di pipiku.
Aku rindu kamu.
Kamu.
Aku mau kamu.

Detik dengan sederhana berlalu
Lalu menit lewat
Kemudian jam hinggap di kelopak mataku
Rentetan waktu membuatku mati suri

Kamu kemana?
Kemana kamu?
(lagi)
(hilang)
(belum ketemu)
(belum pamit)

Kita belum juga kembali ke ‘rumah xamawala’

28 April 2009 / Selasa
Selesai pk. 19.49 di nawi

Dalam penyangkalan kalau ternyata kamu benar sudah tewas.
Benarkah kamu adalah aku?
Sungguh, aku rindukan kamu! Segera pulang.
Aku kini sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar